Home / SEJARAH

SEJARAH

SEJARAH  KOMANDO RESOR MILITER 141/TODDOPULI LAMBANG SATUAN A. U j u d :
  1. Dhuaja Korem 141/Toddopuli berbentuk segi empat panjang, ukuran 90x60 cm, dibuat dari kain beludru  berwarna hijau berbingkai jumbai warna kuning emas ukuran 7 cm.
  2. Pada muka kanan dilukiskan Pataka Kodam VII/Wirabuana.
  3. Pada muka kiri dilukiskan Dhuaja Korem 141/Toddopuli yang terbagi atas dua bagian yaitu :
  4. Lukisan Dhuaja Korem 141/Toddopuli dilukiskan pada dasar Hijau terdiri atas :
1) Tata warna : Hijau -putih-kuning- hitam 2)  Kata ( motto ) : TODDOPULI ( berasal dari bahasa Bugis Lontara Tua )  artinya aturan dari Tuhan tidak dapat dirubah 3)  Bintang kuning  bersudut lima. 4)  Rangkaian padi 17 butir. 5) Rangkaian kapas 8  buah 6)  Bambu Runcing warna kuning bergaris-garis hitam dan beruas 7 (tujuh) melambangkan Sapta Marga, jenis bambu adalah AWOLA-GADING (Bambu Kuning ) melambangkan sebagai senjata alam yang belum pernah terkalahkan sejak zaman kuno hingga abad nuklir ini. Salah satu jenis senjata yang mengandung arti Patriotisme dan Haroisme. Setiap Prajurit Pancasila dan Saptamargais pernah mempergunakan senjata bambu runcing dikala Revolusi 1945 berkobar dengan semboyan : "Sekali bertekat haram diam, maju terus menikam musuh, sekali merdeka tetap merdeka. Merdeka atau mati". 7)  Warna kuning pada bambu diartikan tanda kematangan dan keagungan serta keluhuran. Garis-garis hitam, dimaksudkan lambang ketabahan dan ketekunan dalam menunaikan tugas. 8)  Besi Trisula, senjata kramat  yang bersejarah Senjata pemersatu  Tellupaccoe  ( Bone-Wajo-Soppeng ), dan daerah-daerah sekitarnya. Rakyat pesisir teluk bone pada umumnya dan Daerah sekitarnya pada khususnya. Besi Trisula sangat mendapat kepercayaan tentang magisnya untuk mempersatukan daerah-daerah dan  penduduknya. Trisula  ini diartikan sebagai lambang  ketabahan-kejujuran dan berani memikul resiko atas segala perbuatan demi kebenaran dan keadilan.
  1. Dasar warna Dhuaja Korem 141/Toddopuli adalah Hijau
  2. Tata Warna : Hijau-Putih-Kuning-Hitam-Hijau.
  3. Seluruhnya melambangkan sifat-sifat kesatria.
  4. Warna hijau melambangkan  kesuburan dan kesegaran.
  5. Warna putih ,melambangkan Suci dan Jujur.
  6. Warna kuning melambangkan Kegemilangan, kematangan dan keagungan.
  7. Warna hitam melambangkan ketabahan/ketekunan.
  8. Kesimpulan lambang : Berlaku kesatria dalam menunaikan tugas, berani membela kebenaran, suci hati dan jujur dalam tindakan, tabah, tekun dan tenang menghadapi segala tantangan dari manapun datangnya pantang mundur dan maju terus sampai cita-cita tercapai.
  9. Kata (Motto) TODDOPULI : pengertiannya apabila suatu ikrar sudah dimufakati bersama, bagaimanapun juga mesti dilaksanakan namun menghendaki pengorbanan apapun. Keyakinan yang kuat disertai kesetian dan ketabahan, demi menegakkan kebenaran dan menumbangkan kebatilan.
  10. Bintang bersudut 5 berpedoman kepada Pancasila sebagai dasar falsah Negara. Setiap prajurit membela dan mempertahankannya. Juga diartikan sebagai lambang angkatan darat dimana terpatri lima kebulatan tekad dalam SUMPAH PRAJURIT.
  11. Standart (Mahkota).
  • a) Dhuaja Korem 141/Toddopuli Dam VII/Wirabuana menggunakan Mahkota/tiang sama dengan Mahkota/tiang Pataka Kodam VII/Wirabuana.
  • b) Mahkota melambangkan kewibawaan yang mempunyai sifat-sifat keluhuran budi pekerti, arif, bijaksana dan ikhlas yang terdiri 4 (Empat) bagian berturut-turut dari atas kebawah :
1) Ayam jantan melambangka  :
  1. a) Keberanian dan keperkasaan.
  2. b) Hidup dalam kehidupan sambil mempertahankan kehormatan Bangsa dan Negara dari segala macam perkosaan dimuka bumi ini.
2) Bokor atau bejana emas, bagaian atas bulat dan bagian bawah beralur-alur 11 (Sebelas)  melambangkan  Bokor merupakan wadah dimana  dipelihara, dipupuk sehingga dapat digunakan setiap pimpinan yang bernaung dibawah Dhuaja senantiasa melaksanakan pembinaan 11 (Sebelas) azas Kepemimpinan. 3)  Bunga teratai (Latus) melambangkan kesucian/keteguhan.
  1. a) 5 (lima) helai kelopak diartikan Sumpah Prajurit.
  2. b) 7 (Tujuh) helai daun berbunga diartikan Sapta Marga.
4)  Kepala tiang bulat beralur delapan diartikan menunjukkan kebulatan tekat serta melaksanakan  8 (Delapan) Wajib TNI. Kesimpulan arti maksud Dhuaja Korem 141 / Toddopuli : Sebagai salah satu kesatuan dalam tubuh Angkatan Darat dalam menunaikan tugas Negara untuk mencapai :
  1. Sifat kesatria dalam menunaikan tugas dan Abdi Negara.
  2. Memiliki cita-cita tinggi, menjadi cahaya di tengah kegelapan, menjadi prajurit tauladan dalam perbuatan, sepi ing pamrih rame ing gawe.
  3. Bertekat teguh menggalang persatuan dan kesatuan bangsa lahir dan batin, untuk menghancurkan setiap unsur-unsur dan musuh-musuh revolusi, baik dari dalam maupun dari luar, demi keselamatan dan kehormatan bangsa dan Negara.
  4. Pengemban amanat penderitaan rakyat, pengayom dan pelindung rakyat, yang tetap berpedoman pada Pancasila Sapta Marga dan Sumpah Prajurit.
PANCASILA
  1. KETUHANAN YANG MAHA ESA
  2. KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB
  3. PERSATUAN INDONESIA
  4. KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN / PERWAKILAN
  5. KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA
  UNDANG UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945  PEMBUKAAN Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab Itu maka penjajahan diatas  dunia harus dihapuskan, karena  tidak sesuai dengan peri kemanusian dan peri keadilan. Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia, dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan kertertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang bekedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemenusian yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.  SAPTA MARGA
  1. Kami Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bersendikan Pancasila
  2. Kami Patriot Indonesia, pendukung serta pembela Idiologi Negara yang bertanggung jawab dan tidak mengenal menyerah.
  3. Kami Kesatrian Indonesia, yang bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa serta membela kejujuran kebenaran dan keadilan.
  4. Kami Prajurit Tentara Nasional Indonesia adalah Bhayangkari Negara dan Bangsa Indonesia.
  5. Kami Prajurit Tentara Nasional Indonesia, memegang teguh disiplin, patuh dan taat kepada pimpinan, serta menjunjung tinggi sikap dan kehormatan prajurit.
  6. Kami Prajurit Tentara Nasioonal Indonesia, mengutamakan Keperwiraan di dalam melaksanakan tugas, serta senantiasa siap sedia berbhakti kepada Negara dan bangsa.
  7. Kami Prajurit Tentara Nasional Indonesia, setia dan menepati janji serta Sumpah Prajurit.
SUMPAH PRAJURIT
  1. Setia Kepada Negara Kesatuan RI yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945
  2. Tunduk kepada hukum dan memegang teguh disiplin ke prajuritan.
  3. Taat kepada atasan dengan tidak membantah perintah atau putusan.
  4. Menjalankan segala kewajiban dengan penuh rasa tanggung jawab kepada tentara dan Negara RI.
  5. Memegang segala rahasia tentara sekeras-kerasnya.
8  WAJIB  TNI
  1. Bersikap ramah tamah terhadap rakyat.
  2. Besikap sopan santun terhadap rakyat.
  3. Menjunjung tinggi kehormatan wanita.
  4. Menjaga kehormatan diri di muka umum.
  5. Senantiasa menjadi contoh dalam sikap dan kesederhanaannya .
  6. Tidak sekali-kali merugikan rakyat.
  7. Tidak sekali-kali menakuti dan menyakiti hati rakyat.
  8. Menjadi contoh dan mempelopori usaha-usaha untuk mengatasi kesulitan rakyat sekelilingnya.
SEBELAS AZAS KEPEMIMPINAN TNI
  1. Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan taat kepada-Nya.
  2. ING NGARSA SUNG TULADA. Memberi Suri teladan di hadapan anak buah.
  3. ING MADYA MANGUN KARSA. Ikut bergiat serta menggugah semangat di tengah-tengah anak buah.
  4. TUT WURI HANDAYANI. Mempengaruhi dan memberi dorongan dari belakang kepada anak buah.
  5. WASPADA PURBA WISESA. Selalu waspada mengawasi serta Sanggup dan berani memberi koreksi kepada anak buah.
  6. AMBEG PARAMA ARTA Dapat memilih dengan tepat mana yang harus dilakukan.
  7. Tingkah laku yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan.
  8. Sikap Loyal yang timbal balik, dari atasan terhadap bawahan, dari bawahan terhadap atasan dan ke samping.
  9. GEMINI NASTITI. Kesabaran dan kemampuan untuk membatasi penggunaan dan pengeluaran segala sesuatu kepada yang benar-benar diperlukan.
  10. Kemampuan, kerelaan dan keberanian untuk mempertanggung jawabkan tindakan-tindakan.
  11. Kemauan dan keikhlasan untuk pada saatnya menyerahkan tanggung jawab dan kedudukannya kepada generasi berikutnya.
KODE ETIK PERWIRA BUDHI-BHAKTI-WIRA-UTAMA Budhi : Perwira Tentara Nasional Indonesia berbuat Luhur,bersendikan:
  1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
  2. Membela kebenaran dan keadilan.
  3. Memiliki sifat-sifat kesederhanaan.
Bakti : Perwira Tentara Nasional Indonesia berbakti untuk :
  1. Medukung cita-cita Nasional.
  2. Mencitai Kemerdekaan dan Kedaulatan Republik Indonesia.
  3. Menjunjung tinggi kebudayaan Indonesia
  4. Setiap saat bersedia membela kepentingan nusa dan bangsa guna mencapai kebahagian Rakyat Indonesia.
Wira  Perwira Tentara Nasional Indonesia adalah Kesatria :
  1. Memegang teguh kesetiaan dan ketaatan
  2. Pemimpin (soko guru) dari bawahannya
  3. Berani bertanggung jawab atas tindakannya.
Utama:  Perwira Tentara Nasional Indonesia adalah :
  1. Penegak persaudaraan dan prikemanusiaan.
  2. Penjunjung tinggi nama dan kehormatan Korps Perwira Tentara Nasional Indonesia
BAB I PENDAHULUAN Korem 141/Toddopuli lahir pada saat terjadi kemelut/krisis politik dan keamanan di Indonesia secara umum di Sulawesi Selatan dan Tenggara secara khusus, dimana pemberontakan DI/TII memuncak dibawah pimpinan Kahar Muzakar, dilain pihak terjadi ketegangan diantara pimpinan Militer, disebabkan karena  pada saat itu telah ada Komando Teretorim-7 Wirabuana dibawah pimpinan Panglima Warouw yang mempunyai wilayah tugas Sulawesi dan Maluku kemudian Pemerintah pusat Juga membentuk suatu Komando Daerah Pertempuran Sulawesi Selatan dan Tenggara di singkat  KDPSST dibawah Panglima Kolonel Sudirman yang langsung dibawah Markas Besar Angkatan Darat (MBAD). Mempunyai tugas untuk mengendalikan keamanan di Sulawesi Selatan dan Tenggara dan mengembalikan kewibawaan pemerintah. Korem 141/Toddopuli sejak kelahirannya dimulai dari perjuangan bersenjata sampai sekarang di era reformasi, telah banyak memberikan konstribusi sesuai kemampuan, kompetensi dan profesinya, dalam perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan, menegakkan dan mengisi kemerdekaan serta dalam rangka menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah  Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang  Dasar 1945. Korem 141/Toddopuli berjuang bersama sama rakyat Indonesia dengan jiwa dan semangat patriotisme yang tinggi, tidak mengenal menyerah rela berkorban serta semangat persatuan dan kesatuan guna mewujudkan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945 dengan menjaga kelestarian Negara Kesatuan Republik Indonesia. BAB II SEKITAR  PEMBENTUKAN 
  1. Latar belakang Pembentukan Korem 141/ Toddopuli
Pada saat  memuncaknya pergolakan DI / TII Pimpinan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan dan Tenggara, maka dilancarkan kegiatan operasi pemulihan keamanan yang dikenal dengan istilah Operasi Metafisika yang diterapkan oleh Komando Daerah Pemulihan Keamanan di Sulawesi Selatan dan Tenggara disingkat KO DPSST dibawah pimpinan Kolonel Inf Sudirman yang berkedudukan di daerah tingkat II  Maros. Operasi tersebut diselenggarakan adalah untuk memulihkan keamanan dan mengembalikan kewibawaan pemerintah. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut  Panglima Komando Pemulihan Keamanan Sulawesi Selatan dan Tenggara Kolonel Inf Sudirman membentuk Komando Reserve Umum Hasanuddin yang di resmikan dalam upacara meliter pada tanggal 5 Oktober 1965 di lapangan Karebosi. Komando Reserve Umum Hasanuddin personalia disusun menurut kebutuhan dan disesuaikan dengan TOP yang berlaku pada saat itu : Komandan  : Mayor Inf  M. Yusuf Wakil Komandan  : Kapten Inf Andi  Selle Kepala staf   : Kapten Inf Azis Taba Ka Bag I  : Kapten Inf R. Slamet Ka Bag II  : Lettu Inf R. A. Majid Ka Bag III   : Lettu Inf Sidik Pramono Ka Bag IV  : Kapten Inf Majid Yunus Ka Skertariat : Lettu Inf A. Syaifuddin Dan Denma : Lettu Inf Ukkas Arifin CPRAD : Lettu M. Akib Ismail. Peran KRU Hasanuddin semakin menonjol  dimana pada waktu itu Komando Teritorium 7 Wirabuana dilebur dan dibentuk menjadi empat Komando Daerah Militer (KDM)  sehingga semua Batalyon Organik Komando Territorium 7//Wirabuana yang berada di Sulawesi Selatan dan Tenggara berada dibawah kekuasaan KRU Hasanuddin yaitu :Batalyon Inf 704 Roi I, Batalyon Inf 708 Roi I, Batalyon Inf 710 Roi I, Batalyon Inf 715 Roi I, Batalyon Inf 716 Roi I, Batalyon Inf 717 Roi I, Batalyon Inf 718 Roi I. Dalam perkembangan situasi dan penyesuaian Struktur Organisasi Angkatan Darat dimana KRU Hasanuddin masih merupakan bentuk kesatuan yang belum permanen sehinga dipandang perlu untuk diadakan perubahan. Hal tersebut antara lain disebabkan karena Uraian pembentukan KRU Hasanuddin.  Maka pada tanggal 9 Januari 1957, terjadi perubahan, KRU Hasanuddin menjadi Resimen Inf Hasanuddin.  Praktis KRU Hasanuddin hanya berumur lebih kurang 3 bulan. Dengan perubahan organisasi kesatuan tersebut maka Resimen Inf Hasanuddin mengembang tugas selain sebagai satuan tempur yang melaksanakan tugas-tugas operasi juga dibebani tugas-tugas Teritorial, mengamankan dan membina wilayah. Dalam mengembang dua tugas : Pertempuran dan Teritorial maka susunan staf Resimen Infantri Hasanuddin di susun selain bagian  I (satu) sampai bagaian IV (empat), dilengkapi pula dengan bagian Teritorial yang disebut PE ITERPRA  (Pembantu Inspektur Teritorial Perlawanan Rakyat), inilah yang menjadi tonggak sejarah berdirinya Korem 141/Toddopuli. dan setiap sektor dilengkapi pula dengan Perwira Distrik Militer disingkat PDM. Untuk menetapkan pembinaan wilayah, maka Resimen Infantri Hasanuddin membentuk beberapa sektor sebagai berikut ;
  1. Sektor 1 : Meliputi daerah tingkat II Pangkajenne, Maros, Goa, dan Takalar.
  2. Sektor 2 : Meliputi daerah tingkat II Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, Selayar, dan Jeneponto.
  3. Sektor 3 : Meliputi daerah tingkat II Bone.
Pemrakarsa Pembentukan Korem 141/Toddopuli diawali dari pembentukan Komando Reserve Umum Hasanuddin yang disingkat KRU Hasanuddin pada tanggal 5 Oktober 1956 dan berubah menjadi Resimen Infateri Hasanuddin (RI-Hasanuddin) pada tanggal 9 Januari 1957  di Makassar, Karena Satuan ini disamping mempunyai tugas operasi juga diberi tugas dan tanggung jawab tentang Teritorial, maka pada tanggal 9 Januari 1957 dijadikan Tonggak Sejarah Berdirinya Korem 141/Toddopuli. Pada saat Mayor Andi Muhammad Yusuf Amir (M.Yusuf) kembali dari pendidikan Staff Course di Amerika Serikat, melihat terjadi ketegangan politik dan keamanan di Sulawesi Selatan, Pemberontakan DI/TII pimpinan Kahar Muzakar memuncak, dan terjadi peselisihan Pimpinan Militer antara Panglima Komando Territorium- 7/ Wirabuana (KO TT-7/Wirabuana) di bawah Letkol JF Warouw  dan Panglima Komando Daerah Pertempuran Sulawesi Selatan dan Tenggara (KDPSST) Kolonel Sudirman, serta adanya ketidak- puasan para perwira-perwira asal Sulawesi Selatan dan Tenggara, karena hampir tidak ada dari mereka yang dilibatkan dalam Komando Militer ini, sedang mereka berpendapat  bahwa yang paling mengetahui  kondisi Sulawesi Selatan dan Tenggara adalah mereka/anak daerah sendiri,  situasi  ini dimanfaatkan oleh Kahar Muzakar untuk menarik pengaruh terhadap mantan pejuang untuk mendukung / berpihak kepadanya, Kahar Muzakar membuat propaganda anti Jawa sehingga muncul  sentimen kesukuan dimana-mana.  Melihat itu semua, Mayor M.Yusuf sangat khawatir tentang situasi kritis di Sulawesi Selatan  Tenggara ini, akan membahayakan keutuhan Negara Indonesia, sehingga timbul ide dan mengajak teman-temannya para perwira putra daerah yang merasa kecewa seperti Letnan Kolonel Andi Mattalatta, Mayor Saleh Lahade, Mayor Andi Rivai, dan Mayor Syamsuddin Kurnia, untuk mendiskusikan bagaimana cara pemecahan persoalan yang sangat kritis di Sulawesi Selatan Tenggara  ini, dari hasil diskusi tersebut diperoleh kesimpulan bahwa untuk dapat menyelesaikan / keluar dari persoalan kritis ini,  mereka mempunyai empat kesimpulan dalam cara pemecahannya  adalah sebagai berikut :
  1. Bidang Kemiliteran agar Sulawesi Selatan dan Tenggara termasuk kota Makassar harus merupakan suatu Komando Daerah Militer yang organik dan administrasi.
  2. Bidang Keamanan agar kebijaksanaan pemeliharaan keamanan jangan selalu berganti ganti, tetapi harus ada strategi yang mantap, dimana untuk ini diusulkan agar pemerintah pusat memberi mandat kepada seorang penguasa tunggal Militer, suatu perintah tetap dan tugas serta surat mandat penuh dalam menghadapi kekacauan setempat.
  3. Bidang Pemerintahan tidak kita bahas
  4. Bidang Pembangunan juga kita tidak bahas.
Dari ke empat kesimpulan ini Mayor M.Yusuf bersama dengan Letnan Kolonel  Saleh Lahade melakukan Approach langsung menghadap  KASAD  A.H.Nasution melaporkan bahwa faktor-faktor Objektif dan subjektif yang menggerakkan peristiwa di Sumatra pada hakekatnya juga ada di Sulawesi,  guna mencegah timbulnya suatu tindakan yang menyerupai peristiwa di Sumatra, supaya diambil langkah-langkah yang kongkrit yaitu mengusulkan ke empat kesimpulan tadi diatas, agar diadakan Her-Ordening dibidang pasukan dan personalia dalam rangka pembentukan KO DPSST (Komando  Derah Pemulihan Sulawesi Selatan Tenggara) menuju terbentuknya Kodam yang sederajat dengan Defisi Infanteri Langsung dibawah KASAD. Keempat usulan diatas yaitu  bidang Kemiliteran dan bidang Keamanan direspon dengan baik oleh KASAD sedangkan bidang Pemerintahan dan Pembangunan disampaikan bahwa bukan bidangnya. Dari hasil respon KASAD  Mayor Jenderal Nasution, Komando Daerah Pertempuran  Sulawesi Selatan dan Tenggara berubah menjadi Komanda Daerah Pemulihan Sulawesi Selatan dan Tenggara,  dan pada tanggal 5 Oktober 1956 atas nama KASAD membentuk  Komando Resimen Umum Hasanuddin  di Makassar dengan Komandan Mayor Inf M.Yusuf,  hal ini sedikit mengurangi ketegangan karena para perwira dan mantan pejuang kemerdekaan sudah banyak terserap dalam satuan baru ini dan tidak lama kemudian yaitu pada tanggal 9 Januari berubah menjadi Komando Resimen Infanteri Hasanuddin dengan Komandan Letnan Kolonel M. Yusuf yang merupakan Tonggak Sejarah berdirinya Korem 141/Toddopuli.
  1. Proses Pembentukan
Sebagaimana telah diuraikan diatas bahwa seiring dengan terjadinya ketegangan politik maupun ketegangan keamanan di Indonesia secara umum dan  di Sulawesi Selatan secara khusus,  Mayor M. Yusuf bersama perwira lainya merasa prihatin akan terjadi kehancuran Indonesia, mereka berpendapat bahwa krisis ini terjadi karena pusat terlalu banyak campur tangan urusan didaerah dan hampir tidak melibatkan putra daerah dalam hal Keamanan dan Militer, dan menurut mereka bahwa putra daerahlah yang paling tahu tentang penyelesaian didaerahnya oleh karena itu Mayor M.Yusuf bersama dengan  kawan-kawannya, melakukan musyawarah dan merumuskan jalan keluar khusunya Sulawesi Selatan dan Tenggara, hasil musyawarah tersebut dibawa langsung menghadap KASAD di Jakarta, yang pada saat itu dipegang oleh Jenderal Mayor Nasution dan mendapat tanggapan positif dan direspon dengan baik oleh KASAD sehingga Komando Daerah Pertempuran Sulawesi Selatan dan Tenggara  dirubah menjadi Komando Daerah pemulihan Sulawesi Selatan dan Tenggara  dan dapat mengikut sertakan perwira perwira dan mantan pejuang kemerdekaan putra daerah. Pada tanggal 5 Oktober Panglima KO DPSST atas nama KASAD meresmikan  Komando Resimen Umum Hasanuddin dilapangan Karebosi Makassar,  Satuan ini mengakomudir perwira-perwira putra daerah sehingga sedikit mengurangi ketegangan Sulawesi Selatan, dan berselang kurang lebih tiga bulan tepatnya pada tanggal 9 Januari 1957 Resimen Umum Hasanuddin berubah menjadi Resimen Infanteri Hasanuddin dan mengembang tugas selain sebagai satuan tempur yang melaksanakan tugas-tugas operasi juga dibebani tugas-tugas territorial.
  1. Kondisi Awal
Pada tanggal 9 Januari 1957 telah terjadi perubahan organisasi Reserve Umum Hasanuddin menjadi Resimen Infanteri Hasanuddin mengembang tugas selain sebagai satuan tempur yang melaksanakan tugas-tugas operasi juga dibebani tugas-tugas territorial. merupakan unsur Komando yang di Lengkapi dengan bagian  I s.d. IV dan bagian Teritorial.  Letnan Kolonel Infanteri Muhammad Yusuf diangkat sebagai Komandan Resimen,  kemudian satuan ini dipimpin oleh Letkol Inf Mustafa Sudirja, karena Letkol Inf. M Yusuf diangkat sebagai Kepala Staf Komando Daerah Militer Sulawesi Selatan (KDMSST).  Dalam melaksanakan pembinaanTeritorial Resimen Infanteri Hasanuddin membentuk tiga sektor  dan setiap sektor di  Pimpin oleh Perwira Distrik Militer (PDM). Yang meliputi : Sektor I :  Meliputi  Kabupaten. Pangkep, Maros, Gowa dan Takalar. Sektor II:  Meliputi Kabupaten  Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, Selayar, dan  Jeneponto. Sektor III: Meliputi Kabupaten Bone. Resimen Infanteri Hasanuddin (RI Hasanuddin) personalianya disusun sebagai berikut  : Komandan   :  Letnan Kolonel Infanteri  M. Yusuf Yang kemudian diganti Letnan Kolonel Inf Mustafa Sudirja karena Letnan Kolonel M.Yusuf diangkat menjadi Kepala Staf KDM-SST Kepala Staf :  Mayor Inf Asis Taba, Kabag I :  Kapten Inf R.Slamet Kemudian diganti oleh Kapten Inf Abd   Rahman Kabag  II :  Lettu Inf R.A.Majid,Kemudian diganti oleh Kapten Inf Rumayer Kabag  III  :  Lettu Inf Sidik Pramono kemudian diganti oleh Kapten Inf Rahmat Suwoto, kemudian diganti oleh Kapten Inf Dick Latumahina Kabag IV  :  Kapten Inf A. Majid Yunus Pa Intelpra  : Kapten Inf Mangun Karim, kemudian diganti oleh lettu Inf H.M.Amin Ka Sekretariat :  Lettu Inf Andi Syaifuddin Dan Kima  :  Lettu Inf Ukkas Arifin CPRAD  :   Lettu Tit M.Akib Ismail JAKAD  :   Lettu Inf Andi Paramajeng Penjas  :   Lettu Inf Andi Baso Bren Tugas Resimen Infanteri Hasanuddin dalam melaksanakan operasi pemulihan keamanan, meliputi penumpasan DI/TII dan Muncul pergolakan PERMESTA yang dicetuskan di Ujungpandang pada Tanggal 2 Maret 1957. Resimen Hasanuddin Membawahi 7 Batalyon Infanteri yang sekaligus menjadi  tanggung Jawabnya untuk mengamankan dan mempertahankan wilayah KDM-SST Khususnya  dan wilayah Nusantara Umumnya dari segala rongrongan yang mengancam kestabilan keamanan maupun kewibawaan pemerintah baik dari pusat maupun daerah, Permesta yang dipimpin oleh EX H.N.V. Samuel Panglima Komando Territorium VII/Wirabuana akhirnya melarikan diri ke Menado Sulawesi Utara yang menjadi basis utama Permesta. Batalyon organik Komando Territorium VII/Wirabuana yang berada di Sulawesi Selatan dan Tenggara berada dibawah kekuasaan. BAB  III PERKEMBANGAN ORGANISASI
  1. Struktur Organisasi
Sejak  Resimen Infanteri Hasanuddin diresmikan pada tanggal 9 Januari 1957 yang merupakan tonggak sejarah berdirinya sampai berubah nama menjadi  Korem 141/Toddopuli hingga sekarang ini  telah mengalami beberapa perkembangan, perubahan nama, organisasi/satuan maupun Struktur dan wilayah yaitu:
  1. Komando Resimen Infanteri Hasanuddin
Pada awal berdirinya 9 Januari 1957 Komando Resimen Infanteri Hasanuddin mengembang tugas selain sebagai satuan tempur yang melaksanakan tugas-tugas operasi juga dibebani tugas-tugas teritorial. merupakan unsur Komando yang di Lengkapi dengan bagian  I s/d IV dan dalam melaksanakan pembinaanTeritorial Resimen Infanteri Hasanuddin membentuk tiga sektor  dan setiap sektor di  Pimpin oleh Perwira Distrik Militer (PDM). Yang meliputi : Sektor I  :  Meliputi  Kabupaten. Pangkep, Maros, Gowa dan Takalar Sektor II  :  Meliputi Kabupaten  Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, Selayar, dan  Jeneponto. Sektor  III :  Meliputi Kabupaten Bone. Membawahi 7 ( tujuh ) Batlyon  Infanteri  yaitu Batalyon Inf 704 Roi I, Batalyon Inf 708 Roi I, Batalyon Inf 710 Roi I, Batalyon Inf 715 roi I, Batalyon Inf 716 Roi I, Batalyon Inf 717 Roi I, Batalyon Inf 718 Roi I. Resimen Infanteri Hasanuddin (RI Hasanuddin) personalianya disusun sebagai berikut : Komandan   : Letnan Kolonel Infanteri  M. Yusuf Kepala Staf  : Mayor Inf Asis Taba Kabag I  : Kapten Inf R.Slamet Kabag II  : Lettu Inf R.A.Majid, Kabag III  : Lettu Inf Sidik Pramono  diganti oleh Kapten Inf Dick Latumahina Kabag  IV  : Kapten Inf A. Majid Yunus Pa Intelpra  : Kapten Inf Mangun Karim, Ka Sekretariat : Lettu Inf Andi Syaifuddin Dan Kima  : Lettu Inf Ukkas Arifin CPRAD  : Lettu Tit M.Akib Ismail JAKAD: Lettu Inf Andi Paramajeng Penjas  : Lettu Inf Andi Baso Bren  
  1. Komando Resor Militer I / Lompobattang
Berdasarkan Penetapan KASAD No: PNTP 0-5 Tanggal 5 Agustus 1958  tentang organisasi dan Prosedur KDM-SST Yang melaksanakannya diatur dalam Surat Keputusan Panglima KDM-SST Nomor:Kpts-0073/5/1960 Tanggal 31 Mei 1960 Tentang pembentukan Korem dalam wilayah KDM-SST maka nama Komando Resimen Infanteri Hasanuddin berubah menjadi Komando Resor Militer l/ Lompobattang.  berkedudukan di Makassar. Dengan terbentuknya 4 (empat ) Korem diwilayah KDM-SST maka Komando Resimen Infanteri Hasanuddin berubah menjadi Komando Resor Militer l /Lompobattang, dan  mengalami perubahan yaitu Personel RI Hasanuddin terbagi Dua sebahagian masuk Resimen Induk yang berkedudukan di Pakkatto Daerah Tingkat ll Gowa dan sebagian masuk Korem l/Lompobattang yang tetap berkedudukan di Makassar. Dan wilayah tetap membawahi tiga sektor seperti Resimen Infanteri Hasanuddin yang meliputi: 1)  Sektor l. Meliputi Daerah Tingkat  ll  Pangkajenne Kepulauan (Pangkep), Daerah Tingkat ll Maros,  Daerah  Tingkat ll Gowa dan Daerah Tingkat ll Takalar 2)  Sektor ll. Meliputi Daerah Tingkat ll  Jeneponto, Daerah Tingkat ll Bantang, Daerah Tingkat ll  Bulukumba, Daerah Tingkat ll Selayar, dan  Daerah Tingkat  ll  Sinjai. 3)  Sektor lll Meliputi Daerah Tingkat  ll  Bone Adapun susunan personalia sebagai berikut : Komandan   : Letnan Kolonel Infanteri  Edy Sabara Kepala Staf  : Mayor Inf Andi Lantara Kasi  I  : Kapten Inf Sandewang Kasi  II  : Kapten Inf J. Tatipata Kasi  III : Kapten Inf Sidik Rahmat Suwoto Kasi IV  : Kapten Inf A. Majid Yunus Kasi V  : Kapten Inf A.Rasyid, Ka Sekretariat : Letda Inf  H.M.Ali Dan Dennama : Lettu Inf W.Mairuhu Ka Rohis  : Kapten Tit M.Akib Ismail Jakad : Kapten Inf Andi Paramajeng Penjas  : Lettu Inf Andi Baso Bren Dengan perubahan dari Komando Resimen Infanteri Hasanuddin menjadi Komando Resor l /Lompobattang, tugas Tempur dan tugas Territorial masih tetap dilaksanakan juga ditambah satu tugas lagi yaitu sebagai Komando Garnisun Latimojong yang berlokasi di Bone Pute daerah Palopo Selatan. Dengan demikian Komandan dan Kepalastaf Korem l /Lompobatang juga merangkap sebagai Komandan dan Kepala Staf Garnisun Latimojong, dan untuk jabatan kepala-kepala seksi Garnisun Latimojong adalah perwira perwira dari Korem l/Lompobattang yang bertugas secara bergiliran mengisi Jabatan-jabatan yang diperlukan. Komando Garnisun Latimojong dibentuk berdasarkan atas keperluan untuk menanggulangi kemungkinan diadakannya perundingan dengan pimpinan DI/TII Sulawesi Selatan dan Tenggara yang telah menyatakan penghentian tembak menembak antara pasukan pemerintah R.I. dengan pasukan gerombolan DI/TII karena danya pernyataan merekabersedia kembali kepangkuan RI. 1. Komando Resor Militer 141/Toddopuli 1)  Setelah KDM-SST dirobah menjadi Kodam XIV/Hasanuddin berdasarkan Radiogram Menteri Panglima Angkatan Darat (MENPANGAD) No.T-2867/1962 tanggal 8-11-1962 dan Surat Keputusan Pangdam XIV/Hasanuddin tentang perubahan dari 6 Korem menjadi 3 Korem. Dengan adanya perubahan tersebut maka Korem I/Lompobattang berubah menjadi Korem 141/Toddopuli, Komandan Mayor Andi Lantara tetap berkedudukan di Ujungpandang dan pada tahun 1964 kedudukannya pindah ke Watampone. Korem 141/Toddopuli secara organik membawahi 13 Kodim masing masing adalah: a) Kodim 1409/Wajo b) Kodim 14010/Soppeng c) Kodim 1411/Barru d) Kodim 1412/Pangkep e) Kodim 1413 /Bone f) Kodim 1414/Maros g) .Kodim 1415/Gowa h) Kodim 1416/Sinjai i) Kodim 1417Bulukumba j) Kodim 1418/Bantaeng k) Kodim 1419/Jenneponto l) Kodim 1420/Takalar m) Kodim 1421/Selayar 2)  Bedasarkan surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) Nomor Kpts-0648 /6/1963 Tanggal 4 Juni 1963 dan Surat Keputusan Pangdam XIV/Hasanuddin No,Skep 004/ I / 1965 tanggal 25 Januari 1965  tentang Reformasi untuk kesatuan kesatuan Teritorial yang semula meliputi 3 (tiga)  Korem dan 26 Kodim disederhanakan menjadi 3 Korem dan 13 Kodim sehingga ada Kodim yang menjadi Sub Kodim, dan terjadi perubahan inisial Kodim-Kodim.  Hal tersebut adalah untuk menyesuaikan banyaknya daerah Kabupaten dengan pertimbangan kepada masalah keamanan . Reorganisasi dan reformasi ini berlangsung dari bulan September 1964 s/d  bulan Januari 1965  dengan hasil antara lain sebagai berikut : Korem 141/Bone  dipimpin oleh Letnan Kolonel Infanteri Achmad Lamo yang membawahi Kodim-Kodim dan perubahan inisial yaitu : a) Kodim 1409/Wajo dan Kodim 1410 Soppeng menjadi Kodim 1406/Wajo disebut Kodim Matiro Sompe dibawah pimpinan Mayor Inf Syahir Jamali b) Kodim 1413/Bone menjadi Kodim 1407 dibawah pimpinan Mayor  Inf  Daud c) Kodim 1418 Bantang dan Kodim 1419 Jenneponto menjadi Kodim 1410 Bantaeng dengan sebutan Kodim Toratea dibawah pimpinan Kapten  Inf  Dg. Nudju d)  Kodim 1417 Bulukumba, Kodim 1416 sinjai, Kodim 1421 selayar menjadi Kodim 1411 Bulukumba  disebut  Kodim Bawakaraeng  dibawah pimpinan Kapten Andi Patonangi. 3)  Penggunaan Dhuaja Korem 141/Toddopuli Sesuai Surat Keputusan Kasad  Nomor: Kep-415/5/1966 Tanggal 21 Mei 1966 Korem 141/Toddopuli Resmi menggunakan Dhuaja Toddopuli.  Yang diterima oleh Letkol Inf Tallu Rachim Nrp 16003 yang pada waktu itu menjabat Danrem 141 maka sejak saat itu telah memiliki suatu lambang kesatuan, lambang keluhuran, kejayaan, kehormatan serta sebagai persatuan dan kesatuan untuk memelihara ikatan jiwa lahir-bathin bagi segenap anggotanya, kemudian.  Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat No: Skep /8/I/1986 tanggal  3 Januari 1986 tentang pengesahan penggunaan 5 (lima) buah Lambang kesatuan tingkat Dhuaja  dalam jajaran Kodam VII/Wirabuana  dan sesuai Surat Perintah Pangdam VII/Wirabuana Nomor : Sprin/199/II/1986 tanggal 4 Pebruari 1986 tentang pelaksanaan penyerahan  Dhuaja tersebut diserahkan oleh Mayor Jenderal TNI Nana Narundana Panglima Komando Daerah Militer VII/Wirabuana kepada Kolonel Art Oetomo.S. NRP 19354 Danrem 141/Toddopuli saat itu (Danrem 141/TP ke -15)  sejak itulah Korem 141 telah dua kali menerima suatu lambang kesatuan. 4)  Sesuai Surat Keputusan Pangdam XIV /Hasanuddin Skep/123/V/1979 tanggal 18 Mei 1979 Struktur Organisasi Organik Kodam XIV /Hasanuddin diperbaharui dan disempurnakan, oleh karena itu Korem 141/Toddopuli juga mengalami perubahan wilayah dan perubahan  nomor Kodim yang semula berjumlah 13 Kodim berubah menjadi 10 Kodim meliputi:
  1. Kodim 1406/Wajo
  2. Kodim 1407/ Bone
  3. Kodim 1410/ Bantaeng
  4. Kodim 1411/ Bulukumba
  5. Kodim 1415 /Selayar
  6. Kodim 1423/ Soppeng
  7. Kodim 1424/ Sinjai
  8. Kodim 1425/ Jenneponto
  9. Kodim 1426Takalar
5)  Berdasarkan Surat Keputusan Kasad  Nomor: Skep /50/II/1985 tanggal 13 Februari 1985.  Dalam rangka meningkatkan pembinaan Teritorial Korem 141/Toddopuli mengalami perubahan wilayah dengan penambahan 2 Kodim dan 2 Batalyon,  maka Korem 141/Toddopuli membawahi :
  1. Kodim 1406/Wajo
  2. Kodim 1407/ Bone
  3. Kodim 1409/Gowa
  4. Kodim 1410/ Bantaeng
  5. Kodim 1411/ Bulukumba
  6. Kodim 1415 /Selayar
  7. Kodim 1422/Maros
  8. Kodim 1423/ Soppeng
  9. Kodim 1424/ Sinjai
  10. Kodim 1425/ Jenneponto
  11. Kodim 1426Takalar
  12. Yonif Ter 724/ Julusiri
  13. Yonif Ter 726 /Tamalatea
6)  Pada tanggal 22 November 1988, Yonif 724/Julusiri diserah terimakan Kasad  dari Pangdam VII/Wirabuana kepada Pangkostrad sehingga Yonif 724/Julusiri  menjadi Yonif 433 Linud Brigif- 3 Kostrad dan hanya sekitar tiga tahun berada dibawah Korem 141/Toddopuli sehingga Korem 141/Toddopuli sekarang membawahi :
  1.  Kodim 1406/Wajo
  2.  Kodim 1407/ Bone
  3.  Kodim 1409/Gowa
  4.  Kodim 1410/ Bantaeng
  5.  Kodim 1411/ Bulukumba
  6.  Kodim 1415 /Selayar
  7.  Kodim 1422/Maros
  8.  Kodim 1423/ Soppeng
  9.  Kodim 1424/ Sinjai
  10.  Kodim 1425/ Jenneponto
  11.  Kodim 1426Takalar
  12.  Yonif Ter 726 /Tamalatea
7)  Sesuai Keputusan Kasad  Nomer Kep/14d /XII 1984 tanggal 6 April 2001 Tentang Organisasi dan Tugas Komando Resor Militer  di jajaran Kodam VII/Wirabuana. Staf Sospol dihapus yang sebelumnya  ada Staf Sospol. 8)  Berdasarkan Peraturan Kasad Nomor Perkasad/17/IV/2008  tanggal 8  April  2008  Struktur Organisasi Komando Resor Militer  (Berdasar Daftar Sususnan Personel dan Perlengkapan ) Maka Korem 141/Toddopuli mempunyai Struktur dan Organisasi terjadi perubahan personel maupun materil . 2.Pimpinan Satuan Komandan Satuan dari Komandan Komando Resimen Infanteri Hasanuddin sampai dengan Komando Resor Militer 141/Toddopuli sekarang adalah sebagai berikut :
  1. Letkol Inf M. Yusuf Th 1957 sd 1958
  2. Letkol Inf Mustafa Th.1958 sd. 1960
  3. Letkol Inf Eddy Sabara Th.1960 sd. 1962
  4. Mayor Inf Andi Lantara Th.1962 sd. 1964
  5. Letkol Inf Achmad Lamo Th.1964 sd. 1965
  6. Letkol Inf Tallu Rachim Th.1965 sd. 1968
  7. Letkol Inf Suaib Th.1968 sd. 1969
  8. Letkol Inf Suparman Th.1969 sd. 1973
  9. Letkol Czi D.N Lintang Th.1973 sd. 1974
  10. Kolonel Inf Yanci Raib Th.1974 sd. 1977
  11. Kolonel Inf Hasanuddin Oddang Th.1977 sd. 1980
  12. Kolonel Inf Sudarto Th.1980 sd. 1983
  13. Kolonel Inf Muslim Massewa Th.1983 sd 1985
  14. Kolonel Art Oetomo.S Th.1985 sd. 1987
  15. Kolonel Inf Tamlika Ali Th.1987 sd. 1988
  16. Kolonel Inf Imam Soetopo Th.1988 sd. 1990
  17. Kolonel Inf Ali Imran Sidik  Th.1990 sd. 1992
  18. Kolonel Inf Rhiat Wiseso Th.1992 sd. 1994
  1. Kolonel Inf Sartomo Th.1994 sd. 1995
  2. Kolonel Inf Effendi Rangkuti Th.1995 sd. 1996
  3. Kolonel Inf H.Muh.Husni Thamrin,SH Th. 1996 sd Th.1997
  4. Kolonel Kav Salim Mengga Th. 1997 sd Th.2000
  5. Kolonel Inf Nasib Alamsyah Th. 2000 sd Th.2002
  6. Kolonel Inf Rachmat Budiyanto Th.2002 sd. 2005
  7. Kolonel Kav Kusworo Tgl 1-3-2005 sd 13-11-2005
  8. Kolonel Inf Moeldoko Tgl 13-11-2005 sd 14-11-2006
  9. Kolonel Inf Soekoyo Tgl 14-11-2006 sd 31-07- 2008
  10. Kolonel Inf Muhamad Nur Tgl 31-7-2008 sd 13-08-2010
  11. Kolonel Inf Sukran Hambali Tgl 13-08-2010 sd 29-03-2012
  12. Kolonel Inf Afanti S Uloli Tgl 29-03-2012 sd 10-04-2014
  13. Kolonel Kav Purnomo Sidi Tgl 10-04-2014 sd 10-08-2015
  14. Kolonel Inf Mochammad Hasan Tgl 10-08-2015 sd 03-05-2016
  15. Kolonel Kav Drs Yotanabey. A.M, M.Def. S.T. Tgl 03-05-2016 sampai sekarang
BAB  IV PENGABDIAN
  1. Tugas Operasi Militer Untuk Perang. Bila dihadapkan dengan tugas Pokok TNI  menurut undan-undang TNI Nomor 34 tahun 2004 maka Korem 141/Toddopuli belum pernah melaksanakan Operasi militer untuk perang, namun dalam tugas pembebasan Ireian Barat, Resimen Infatei Hasanuddin cukup memberikan peran dalam pengamanan Komando pembebasan Irian Barat yang dipusatkan di Makassar.
  2. Tugas Operasi Militer Selain Perang
Operasi Mengatasi Sparatis Bersenjata/Mangatasi pemberontakan bersenjata. 1)  Sejak tahun1957 awal berdirinya Resimen Infanteri Hasanuddin dengan membawahi 7 Batalyon Infanteri telah melaksanakan tugas pemulihan keamanan dan melaksanakan penumpasan D/TII Pimpinan Kahar Muzakar dan penumpasan Permesta pimpinan Letkol H.V Samuel. 2)  Korem Lompobattang Melaksanakan operasi menghancurkan pertahanan DII/TII
  1. a) Tanggal 1 s/d 25 Pebruari 1957 Operasi Bawakaraeng sekitar Bawakaraeng, Malino dan Makaji sebelah Timur
  2. b) Tanggal 13 s/d 17 Maret 1959 Operasi Toratea di Takalar Jenneponto dan Bantaeng bahagian Utara.
  3. c) Tanggal 20 s/d 26 Agustus 1959 Operasi Pulau Selayar didaerah selayar dan pulau-pulau lain.
  4. d) Tanggal 28 Oktober s/d 28 Nopember 1959 Operasi sekitar Maros, Pangkajenne sampai Lamuru Kab.Bone.
3)  Pada tahun 1963 s/d 1977 melaksanakan Operasi pembersihan sisa sisa DI/TII yang masih bertahan di hutan-hutan. 4) Pada tahun 1964 s/d 1966
  1. a) Yonif 726 Tamalatea melaksanakan Operasi penumpasan pengacau keamanan Andi Selle Mattola dkk di Suppa, Penumpasan DI/TII pimpinan Andi Mappe,penumpasan DI/TII daerah Gowa dan Bulukumba.
  2. b) Yonif 724/Julusiri malaksanakan penumpasan Di/TII Nurdin Piso di daerah Pinrang, Polmas, Sidrap, Wajo, Soppeng oleh Yonif 724/Julusiri dipimpin oleh Kapten Inf Sanusi.
5)  Pada tahun 1966/1977. Yoniy 726/Tamalatea melaksanakan operasi penumpasan  G.30S/PKI  di daerah Bone dan sekitarnya. 6)  Bedasarkan Radiogram Pangdam XIV/Hasanuddin Nomor : T/001/III/1968 Yonif 726/Tml diperkuat 1 (Satu) Kompi 721 dengan Komandan Batalyon Infanteri Sanusi berangkat ke daerah Operasi Irian Barat sebagai Satgas II dan kembali kepangkalan pada tanggal 18 April 1969. 7) Pada tahun 1970 Yonif 724/Julusiri melaksanakan Operasi di Irian Jaya  yang tergabung dalam Satgas III Hasanuddin dipimpin Mayor Inf Mokhtar Jaya. 8)  Pada tahun 1971, Yonif 724/Julusiri melaksanakan Operasi penumpasan DI/TII  di daerah   Duri Kabupaten Enrekang  dipimpin oleh Kapten Inf Ibrahim Tulle. 9) Berdasarkan Surat Perintah Pangdam XIV/Hasanuddin nomor. Sprin/0156/VII/1974 tanggal 6. Juli 1974 Satgas IV dan Satgas II Yonif 726/Tml dengan Komandan Batalyon Mayor Inf RMC Parwito melaksanakan operasi pengamanan tapol TEEFAAT Pulau Buru selama 1 tahun. 10)  Pada tahun 1976, Yonif 724/Julusiri melaksanakan Operasi Seroja di daerah Timor-Timur di pimpin oleh Mayor Inf Marsudiyono. 11)  Berdasarkan Surat Perintah Pangdam XIV/Hasanuddin No. Sprin/670/VII1977 Yonif 726/Tml dengan Komandan Batalyon Letkol Inf Sinungkaryo berangkat ke daerah Operasi Tim-tim melaksanakan Operasi Seroja selama 12 Bulan. 12)  Pada tahun 1979 s/d 1980 Yonif 724/Julusiri melaksanakan Operasi Teritorial di Irian Jaya  dibawah pimpinan Mayor Inf Sudjito 13)  Berdasarkan Surat Perintah Pangdam XIV/Hasanuddin No. Sprin/703/V/1983 tanggal 19 Mei 1983, Yonif 726/Tml dengan Komandan Batalyon Letkol Inf As. Abdullah berangkat ke daerah Operasi Irian Jaya dan kembali pada tanggal 18 Mei 1984. 14)  Pada tahun 1985 s/d 1988 Yonif 724/Julusiri melaksanakan Operasi pemulihan keamanan dan ketertiban di Irian Jaya dibawah pimpinan Mayor  Inf Suharto. 15)  Pada tahun 1987 s/d 1988 dan tahun 1988/1989 Yonif 726/Tml melaksanak Operasi Seroja di Timor-Timur dengan Komandan Batlyon Mayor Inf Silinglingo Dalam Operasi ini  berhasil menembak mati 2 (Dua) org GPK serta merampas 16 pucuk senjata dan 1 (Satu) bh PRC 77. 17)   Pada bulan Pebruari 1993 s/d 1994 Yonif 726/Tml melaksanakan Operasi Teritorial di bawah pimpinan Mayor Inf Ngawin Ginting di daerah Timor-timur. 18)  Pada bulan September 1995, 1 Ton andalan Yonif 726/Tml bergabung dengan 1 Ton Yonif 721/Mks dan 2 Ton Yonif 700/BS melaksanakan tugas operasi di Timor-Timur sebagai kompi pemburu. 19)  Berdasarkan Surat Perintah Pangdam VII/Wirabuana No. Sprin/1594/XII/1997 tanggal Desember 1997, Yonif 726/Tml dengan Komandan Batalyon Mayor Inf Hadi Kusnan melaksanakan Operasi di Irian Jaya,  dengan hasil  menyadarkan 180 orang masyarakat pelintas batas, dan berhasil merampas 2 (dua) pucuk senjata api. 20)  Pada tahun 2000, 1 SKK melaksanakan pengamanan kerusuhan di daerah Kab. Poso dari bulan Juni sampai dengan September 2000 dengan hasil tertangkapnya provokator a.n. Dominggus dan Tibo. 21)  Pada tahun 2002, 1 SKK melaksanakan pengamanan kerusuhan di daera Kab. Poso bulan Agustus sampai dengan bulan Januari 2003. 22)  Berdasarkan Surat Perintah PangdamVII/Wrb Nomor:Sprin/729/VI/2003 tanggal 23 Juni 2003  melaksanakan tugas operasi pengamanan Irian Jaya/Papua dengan Komandan Satuan Tugas Letkol Inf Damar Teguh Santoso Nrp. 31219. Operasi Membantu Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam rangka tugas Keamanan dan Ketertiban. 1)  Pada tahun 1977 Yonif 726/Tml melaksanakan tuga pengamanan Pemilu di daerah Bulukumba. 2)  Pada tahun 1982  Yonif 724/Julusiri melaksanakan tugas pengamanan tidak langsung Pemilu di daerah kabupaten Maros,Pangkep, Barru,Sidrap,Enrekang dan Kodya Ujung Pandang dan  Yonif 726/Tml melaksanakan tugas Pam Tak Sung Pemilu 1982 di daerah kabupaten Takalar, jeneponto,Bantaeng, dan Selayar. 3)  Pada tahun 1987 Yonif 726/Tml  melaksanakan tugas Pam Tak Sung Pemilu 1987 di daerah kabupaten Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, dan Selayar. 4) Pada tahun 1992 Yonif 726/Tml  melaksanakan tugas Pam Tak Sung Pemilu 1992 di daerah Kabupaten Bone, Bulukumba Selayar dan Sinjai. Mangamankan Wilayah Perbatasan Berdasarkan  Surat Perintah Pangdam VII/Wrb No. Sprin/428/V/2001, Satgas Yonif 726/Tml pada tanggal 2 Mei 2001, melaksanakan tugas operasi Waspada pengamanan perbatasan NTT/Tim-Tim dibawah Komandan Satuan Tugas Mayor Inf Moh. Sugiarto S.Sos Nrp. 30797. Membantu Tugas Pemerintah di Daerah (Operasi Bakti) 1)  ABRI Masuk Desa Manunggal .
  1.  Tahun 1980/1981 AMD  Manunggal I di Dati II Bulukumba  dan Dati II Maros. Serta AMD Manunggal II di Dati II Gowa
  2. Tahun 1981/1982 AMD manunggal III di Dati II Bone dan  Takala,  AMD Manunggal IV di Dati II Jeneponto ,  AMD Menunggal  V di Dati II Soppeng,  Selayar dan Bantaeng .serta AMD menunggal  VI di Dati II Sinjai dan
  3. Tahun 1982/1983 AMD Manunggal VII di Dati II Maros dan  Bulukumba,  AMD Menunggal VIII di Dati II Gowa danTakalar , AMD Menunggal IX di Dati II Bone dan  Jeneponto,  AMD Menunggal X di Dati II Bantaeng  Dan Soppeng.
  4. Tahun 1983/1984 AMD Manunggal XI di Dati II Selayar  dan Sinjai,  AMD Menunggal XII di Dati II Wajo,  AMD  Menunggal XIII di Dati Bulukumba,  Maros dan Takalar ,AMD Menunggal XIV di Dati II Jeneponto.
  5. Tahun 1984/1985 AMD Manunggal XVII di Dati II Bantaeng,
  6. Tahun 1985/1986 AMD Manunggal XIX di Dati II Soppeng, AMD Menunggal XX di Dati II Selayar,AMD Menunggal XXI di Dati II Bone.
  7. Tahun 1986/1987 AMD Manunggal XXII di Dati Sinjai.AMD Manungal XXIII di Dati Gowa,AMD Manunggal XXIV di Dati Bone.
  8. Tahun 1987/1988 AMD Manunggal XXV di Dati Bulukumba, AMD  Manungga  XXVI  di Dati Maros,  AMD menunggal XXVII di Dati II  Jeneponto dan Takalar.
  9. Tahun 19881989 AMD Manunggal XXVIII di Dati II Bantaeng AMD Manunggal XXIX di Dati II Selayar.
  10. Tahun 1989/1990 AMD Manungal  XXXI di Dati  II Sinjai,  AMD  Manunggal  XXXII di Dati II Gowa, AMD manunggal XXXIII di Dati II Bone.
  11. Tahun 1990/1991 AMD Manunggal XXXIV di Dati II Maros, AMD  Manunggal XXXV  di Dati II Takalar, AMD Manunggal XXXVI di Dati II Bantaeng dan Jeneponto.
  12. Tahun 1991/1992 AMD Menunggal XXXVII di Dati IISelayar, AMD  Manunggal  XXXVIII  di Dati  IIWajo  dan  Soppeng, AMD manunggal  XXXIX di Dati II
  13. Tahun 1992/1993 AMD Manunggal XL di Dati II Gowa, AMD manunggal XLI di Dati II Bulukumba dan Bone,  AMD Manungal XLII di Dati II Maros.
  14. Tahun 1993/1994 AMD Manunggal XLlII di Dati II Jeneponto dan Takalar. AMD Manunggal XLIV di Dati II Selayar dan AMD Manunggal XLV di Dati II Wajo dan Bantaeng.
  15. Tahun 1994/1995 AMD Manunggal XLVI di Dati  II Soppeng, AMD Menunggal XLVII di Dati  II Sinjai, AMD Menunggal XLVIII di Dati II Gowa, AMD Menunggal XLIX di Dati II Bone AMD Manunggal L di Dati II Bulukumba.
  16. Tahun 1995/1996 AMD Manunggal  LI Dati II Bone, AMD Manunggal L di Dati II Bulukumba.
  17. Tahun 1996/1997AMD Manunggal Lll Dim 1425 Jenneponto, Manunggal Llll Dim 1425 Selayar dan Manunggal LIV Dim 1426 Takalar
  18. Tahun 1997/1998 AMD Manunggal LII Dim 1425/ Jeneponton Manunggal LIII di Dim 1415/Selayar dan Manunggal LIV  di Dim 1426/Takalar.
  19. Tahun 1997/1998 AMD Manunggal LV Dim 1406/Wajo, Manunggal LVl Dim 1410/Bantaeng, Manunggal LVll Dim 1423/Soppeng.
  20. Tahun 1998/1999 AMD Manunggal LVlll Dim 1424 /Sinjai, Manunggal LIX  Dim 1409 Gowa, Manunggal LX Dim 1407 /Bone.
  21. Tahun 1999/2000 TMMD Manunggal LXl Dim 1411 /Bulukumba, Manunggal LXll  Dim 1422/Maros, Manunggal LXlll Dim 1425/Jeneponto, Manunggal LXIVDim 1415/Selayar, dan Manunggal LXV Dim 1426 /Takalar.
  22. Tahun 2001 TMMD Manunggal LXVl Dim 1406/Wajo, Manunggal LXVll Dim 1410/Bantaeng.
  23. Tahun 2002 TMMD Manunggal LXVlll Dim 1423/Soppeng, Manunggal LXlX  Dim 1424/Sinjai, TMRS Dim 1409 /Gowa.
  24. Tahun 2003 TMMD Manunggal LXX Dim 1409/Gowa, Manunggal LXXI Dim 1411/Bulukumba dan 1407/Bone.
  25. Tahun 2004 TMMD Manunggal LXXll Dim 1422/Maros, Manunggal LXXlll Dim 1425/ Jenneponto, TMSS Dim 1406 / Wajo.
  26. Tahun 2005 TMMD Manunggal LXXIV Dim 1415/Selayar, Manunggal LXXV Dim 1423/ Soppeng dan Dim 1426/Takalar.
  27. Tahun 2006 TMMD Manunggal LXXVl Dim 1410/Bantaeng, Manunggal LXXVll Dim 1424/Sinjai.
  28. Tahun 2007 TMMD Manunggal LXXIX Dim 1406/Wajo dan Dim 1407 /Bone, Manunggal LXXIX Dim 1411/Bulukumba, TMSS 1426 /Takalar.
  29. Tahun 2008 TMMD Manunggal LXXX Dim 1409/Gowa, Manunggal LXXXI Dim 1407/Bone dan Dim 1422/Maros.
  30. Tahun 2009 TMMD Manunggal LXXXII Dim 1415/Selayar dan Dim 1423/Soppeng, Manunggal LXXXIII Dim 1426/Takalar.
  31. Tahun 2010 TMMD Manunggal LXXXIII Dim 1410/Bantaeng dan Dim 1425/Jeneponto.
2)  Operasi ABRI Manunggal Reboisasi.
  1. Tahun 1983/1984 :  ABRI Manunggal Reboisasi  I  di  Dati II Bone.
  2. Tahun 1984/1985 :  ABRI Manunggal Reboisasi II dii Dati II Bone..
  3. Tahun 1985/1986 :  ABRI Manunggal Reboisasi III  di Dati II Bantaeng.
  4. Tahun 1986/1987  : ABRI Manunggal Reboisasi IV  di Dati II Gowa .
3)  Bhakti ABRI  dan KB Kes :
  1. Tahun 1990/1991 : Bhakti  ABRI  di Bellawa  Dati II  Wajo dan Bhakti ABRI di kota Watampone
  2. Tahun 1991/1992 : Bhakti ABRI di Jeneponto,  KB   Kes di Kab. Bone dengan sasaran desa terpencil.
  3. Tahun 1994/1995 :  KB Kes dilaksanakan di jajaran Korem 141/Tp mulai tanggal 1 Juli s/d 31 September  1994, sebagai juara I Kodim 1407, juara  II Kodim 1425 dan juara III  Kodim 1415 /Selayar.  Bhakti ABRI di Bajoe Kab. Bone  Membuat  Pondok Pasantren dan Masjid
  4. Tahun 1995/1996 : Bhakti Sosial ABRI di laksanakan di Kec. Kajuara di Kab. Selayar.  Operasi Bhakti Menunggal Aksara dilaksanakan dijajaran Korem141/Tp  mulai  bulan Juli  1995 s/d Januari 1996 dengan sasaran 16.410 orang.
KB  Kes  dilaksanakan di jajaran Korem 141/Tp mulai tanggal 11  Juli 1995 s/d Oktober 1995, sebagai juara I Kodim 1407, juara II Kodim 1406 dan juara III  Kodim 1424. Prestasi-Prestasi Terbaik.
  1. Juara Umum Lomba Binter TNI-AD tahun 1995 mendapat Piala Bergilir KASAD ( Kodim 1407/Bone).
  2. Juara I, Ton Beranting Yudha Wastu Pramuka Jaya tahun 1995 Kodam VII/Wrb ( Yonif 726/Tml ).
  3. Juara l TK Paratama TNI-AD Lomba Binter TK Kodim ke XVI tahun 2008/2009 (Kodim 1411/Bulukumba )
  4. Juara I TK TNI-AD Lomba Karya tulis Teritorial TK Pama tahun 2009 Kapten Chb Sadar Sinurat ).
BAB V   PENUTUP Demikianlah tulisan tentang sejarah Korem 141/Toddopuli  mulai dari pembentukan Komando Resimen Umum  Hasanuddin (KRU) pada tahun 1956 kemudian berubah nama menjadi  Resimen Infanteri  Hasanuddin (RI - Hasanuddin) disamping mempunyai  tugas tempur juga diberikan tugas tambahan sebagai Pembina wilayah, yang diresmikan pada tanggal 9 Januari 1957 yang menjadi tonggak sejarah berdirinya , kemudian berubah lagi menjadi Komando Resor Militer I /Lompobattang  pada tanggal 31 Mei 1960 secara resmi menggunakan nama Korem dan selanjutnya  berdasarkan Radiogram Menteri Panglima Angkatan Darat ( MENPANGAD) No. T-2867/1962 tanggal 8 Nopember 1962  dan surat keputusan Pangdam Hasanuddin menjadi Korem 141/Toddopuli sampai sekarang dan semula berkedudukan di Makasar  pada tahun 1964 pindah ke Watampone. Daftar Pustaka
  • Jenderal M.Yusuf, Panglima Para Prajurit Penulis Atmaji Sumarkidjo 2006
  • 25 Tahun Kodam XIV Hasanuddin 1957-1982
  • Andi Mattalatta Meniti Siri dan Harga Diri  Catatan dan Kenangan
Khasanah Manusia Nusantara Jakarta 2002
  • Nomor Dan Lokasi Komando Teritorial Staf Teritorial, Markas Besar Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat 30 Juni 1981
  • 70 Tahun H. Andi Sose , dari Revolusi ke Militer, Wirasuasta Dunia Sosial Sampai Era Reformasi Penyuting Drs.h.Misbahuddin Achmad, Ms, Penerbit Universitas 45 Makassar Tahun 2000.
  • Menelusuri Jejak Korem 141/Toddopuli , Citra Buana  20 Juni 2005
  • Kodam VII/Wirabuana Kisah dari latar belakang Sejarah.
  • Pakkanna Prajurit Abad XVII  Warta Wirabuana  Setia hinngga Akhir Kodam VII/Wirabuana 45 Tahun Mengabdi  20 Juni 1995
  • Arsip Korem 141/Toddopuli
.